Selasa, 03 Januari 2012

Berburu Rusa, Bagian Dari Rekonsiliasi Dan Silahturami Keluarga


(Anato Moreira)

siang itu...., ”wah kalo pak Nato datang besok pasti bisa mendapatkan daging rusa, karena besok itu hari terakhir atau hari ketiga warga Alas  berburu rusa”, sepenggal kalimat dari bapak Marsel Mali mengawali perbincangan kami, saat saya berkunjung di kediamannya di Kota Biru Alas.
***

Perjalanan melakukan penelitian perbatasan damai di tiga desa; Alas selatan, Motaain dan Napan bersama teman lainnya adalah hal yang membanggakan dan penuh tantangan. Kenapa ? karena ini adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan negara baru Timor leste,  tantangannya adalah kita  berhadapan dengan masyarakat yang sedikit mempunyai kecurigaan, dan sudah pasti akan berjumpa  dengan bapak-bapak anggota TNI dan Polisi yang bertugas di perbatasan.

Di Wilayah kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur  mempunyai tiga pintu perbatatasan resmi dengan Timor Leste antara lain Motaain, Haekesak, dan Motamasin.

Enam Kecamatan di Belu yang berbatasan dengan Timor Leste, pada umumya warga yang mendiami masih mempunyai hubungan historis, sejarah dan kekeluargaan yang erat dengan warga Timor Leste di perbatasan.

Hal ini terjadi karena rentetan peristiwa sejarah dari jaman-raja, penjajahan Portugis dan Jepang kala itu. Atau, dengan kata lain mereka memiliki satu nenek moyang dan satu rumah adat.

Salah satu contoh desa di Alas pada umumnya, warga di desa Alas, kecamatan Kobalima Timur Kabupaten Belu memiliki hubungan kekeluargaan dengan warga di Timor Leste khususnya di distric Kovalima-Suai.

Memiliki persamaan nama, bahasa ,rumah adat. Hal ini sering saya jumpai saat bertamu rumah-rumah baik itu warga lokal maupun warga eks Timor-Timur yang tinggal di desa Alas.

Satu tradisi  warga  Alas  dan Tilomaar, Fohorem di distric Kovalima Suai    yang masih di pertahankan sampai sekarang adalah ”Suhulonuk”, yang artinya pembebasan atau penyucian kembali.

Tradisi ”Suhulonuk”  sendiri di pakai untuk pembebasan masa larangan tiga tahun berburu rusa, artinya sebelum genap tiga tahun, kedua warga dari dua negara ini tidak boleh berburu binatang di hutan.

Konon cerita, tradisi ini ada sejak jaman raja Alas Wihelmus Leki bahkan sebelumnya, dan masih di pertahankan sampai Timor-Timur merdeka atau sampai saat ini.

Saat saya bertandang kerumah bapak Marsel Mali salah satu warga di Kota Biru Alas, beliau menceritakan bahwa masyarakat yang terlibat atau yang ikut ambil bagian dalam perburuan ini  pada umumnya laki-laki, ibu-ibu berkumpul di rumah dan memasak buat laki-laki atau suami yang pergi berburu selam tiga hari.

”wah kalo pak  Nato datang besok pasti bisa mendapatkan daging rusa, karena besok itu hari terakhir atau hari ketiga warga Alas  berburu rusa”, sepenggal kalimat dari bapak Marsel Mali mengawali perbincangan kami, saat saya berkunjung di kediamannya di Kota Biru Alas.

Saat mereka berburu, berkejar-kejaran dengan hewan di hutan diantaranya rusa, babi, juga ayam, saat kejar-kejaran itu secara tidak sadar mereka  memasuki wilyah Timor Leste atau Indonesia, tanpa paspor, visa atau surat rekomendasi lainnya.

Hewan yang di buru pun tidak harus ditangkap semuanya, ada aturan-aturan adat dalam perburuan, ini mencegah agar tidak punah.

Selain itu, perburuan ini menjadi ajang pertemuan atau silahturahmi di sungai juga di hutan untuk saling berbagi dan mendiskusikan apa yang perlu mereka diskusikan.

Bagi kedua warga ini, walaupun sudah ada perbatasan kedua negara Indonesia dan Timor Leste, tapi hubungan atau silahturahmi dan adat tidak ada batasnya. Mereka bisa bertemu kapan mereka mau untuk melakukan acara ritual-ritual adat.

Ini menarik, di kala Timor-Timur sudah bukan lagi propinsi tetapi sudah menjadi negara baru, mereka masih tetap melakukannya. Bagi mereka hubungan kekeluargaan tidak boleh putus, prosesi adat tetap di laksanakan.

***

Pesanya, untuk kedua warga baik di Indonesia dan Timor Leste yang tinggal di perbatasan tentunya perlu ada regulasi khsusus bagi mereka untuk melintas batas, karena mereka satu adanya.

Kita bersyukur dengan pemberlakukan Pas Lintas Batas oleh pemerintah kedua negara, akan mempermudah warga untuk melintas batas bertemu dengan keluarga di seberang,ini juga  mengurangi warga yang melintas secara ilegal.


salam...!!!

Catatan:
sebagian sumber  informasi dari tulisan ini, di dapat dari beberapa tokoh di Alas.



Rabu, 07 September 2011

”PROVICIAT BUAT CIS TIMOR DI ULTAH KE-12” (09 September 2011)

Salah satu kegiatan dalam memeriahkan ULTAH CIS ke-10 Lalu

Syalom teman-teman…!!

Apa kabar semuanya, semoga acara Ultah Cis Timor kali ini meyenangkan, pasti ada minum-minum tu e…, Tinto ko Jw atau yang lainya, main  bola kaki su pasti…!

Semoga Ultah Cis ke-12 ini membawa semangat yang baru dalam aktivitas kita semua. Saya juga ingin, agar  di umur Cis yang ke duabelas ini berbagai mimpi-mimpi
untuk lembaga tercinta, yang sudah kita gumuli bersama dapat terwujud.

Ada yang mungkin sementara kita jalani, ada yang ingin kita jalani ke depan, semuanya berlalu tanpa kita sadari. Kata Om Winston ”bagaikan sebuah magnet  atau getaran yang selalu datang tanpa kita sadari, tetapi itu sudah kita merencanakan dari awal”


***


Terima kasih.....terima kasih, Saya selalu mengapresiasikan dua kata itu yang sebesar-besarnya buat Cis Timor, lembaga di mana sudah delapan tahun saya mengabdi.


Dua belas tahun umur Cis, delapan tahun  (2003-2011) sudah  saya sudah mengabdi di dalamnya. Sepertinya bukan ”Terima Kasih ” saja yang saya ucapkan, kalau bisa ”Berhutang Budi”  buat lembaga ini, apa yang saya peroleh tidak bisa di nilai dengan uang, atau apapun.


Cis Timor ibarat sebuah sekolah,  juga sebuah bengkel. Di dalamya terdapat guru-guru , pentrainer yang handal, banyak orang-orang belajar di dalamnnya. Sebuah tradisi kaderasisasi yang jarang di jumpa di lembaga lain. Jujur saya katakan, selain spirit kerelawanan, ini juga merupakan salah satu kekuatan Cis di dalamnnya, semoga ini tetap di pertahankan terus menerus.  Pernah, ada seorang teman berkata ” Anak-anak Cis dong tu kerja apa sa bisa, padahal bukan background mereka”.

Organisasi boleh lokal, tapi gaungnya sudah sampai  ke Internasional, banyak orang-orang dari luar negeri yang  mengenal Cis dan kerja-kerja nya. Kalau bisa saya bilang, saya  bisa punya beberapa kenalan teman yang baik sampai hari di beberapa negara  : Irlandia, Australia, Amerika, Jerman, Jepang, Filipina, Korea dan Beberapa teman Aktivis yang sangat berpengaruh baik dari Indonesia maupun dari negara lain itu semua  karena berkat kinerja dan prestasi Cis dalam melakukan kerjanya di Timor barat.


Sungguh satu penghargaan yang saya tidak pernah lupa dan tidak bisa di nilai dengan angka-angka. Inilah yang saya bilang bukan mengucapkan terima kasih melainkan berhutang budi, entah kapan bisa di balas, waktu yang menentukan.

Intinya bagi saya adalah, Cis adalah sebuah Sekolah, Akademik, Universitas yang bisa memproduksi lulusan pekerja kemanusiaan yang handal  untuk bisa  bekerja di tempat lain nantinya.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun Buat Cis Timor yang  ke-12,  umur yang makin dewasa, sukses selalu dan tetap berkarya dalam melayani kaum Marjinal.



Deuz Gracia..!!!!!!!!




Salam:

Anato Moreira

Cis Volunnter








Senin, 01 Agustus 2011

Tiga Hari “Visita” Timor Leste

Sebagai delegasi  dari Cis Timor di Timor Barat Indonesia, satu lembaga swadaya masyarakat  yang masih konsen kerja memantau dan mengadvokasi perkembangan kehidupan warga eks pengungsi Timor-Timur yang tinggal di kamp dan settlemen Kupang dan Atambua , adalah satu penghargaan besar tersendiri turut serta dalam  pertemuan evaluasi repatriasi di Dili dan pertemuan keluarga di Bazartete. Ini di maksud untuk memperkuat kerja sama yang sudah di bangun, juga mempererat tali persaudaraan dengan para aktivis seperjuangan dan masyarakat di Timor Leste umumnya.

Sebelumya bersama teman-teman Grupu Fila Hikas Knua di Dili telah memfasilitasi 58 keluarga  202 jiwa warga eks pengungsi Timor-Timur yang secara sadar memilih kembali ke tanah kelahiran mereka Timor Leste sepanjang tahun 2010-2011. Dan juga serangkaian kegiatan lain yang  relevan dengan eks pengungsi Timor-Timur seperti pertemuan perbatasan juga rekonsiliasi keluarga.
 
Kunjungan ini dilakukan di dua tempat, Dili dan Bazartete. Dari kunjungan itu di adakan  pertemuan di tiga  tempat terpisah, pertemuan membahas evaluasi repatriasi , pertemuan perbatasan  serta  rencana konkrit ke depan. Bersama teman-teman Grupu Fila Hikas Knua , staf di  Menisterio Estrangerio  di Dili, dan  Escravas Do Sagrado Coracao De Jejus di Bazartete, Yayasan Suster Monika. Saya menggambarkan ini secara umum  lewat tulisan secara berurutan.

****

Lima Jam Bersama Warga Bazartete

“Rumah kami di atas puncak gunung itu, kita akan bertemu dengan masyarakat di tempat itu” kata Suster Monika sambil menunjukan ke arah sebuah bangunan yang
Berada di puncak gunung pada saya dan Mas Nug

Berjarak 45 km dari kota Dili, distric Liquisa  satu dari 12 distric yang paling dekat dengan ibu kota Negara Timor Leste itu. Perjalanan yang di tempuh untuk bisa sampai  ke sub distric Bazartete distric Liquisa satu jam lamanya, asiknya perjalanan ini  karena pemandangan pantai dan  pengunungan yang begitu  indah. Saya (Cis Timor) Mas Nug dan Suster Monika (Grupu Fila Hikas Knua) dengan  menumpangi kendaraan Hi-Lux putih  yang di setir oleh Suster sendiri melaju dengan kecepatan 60-70 km/jam dari Dili.

Dengan jalan yang berkelok-kelok kadang membuat saya pusing juga, tapi itu semua terobati dengan pemandangan gunung dan pantai yang cukup indah. Kami sampai di Bazartete pukul 11:00 siang. Daerahnya dingin, sepanjang perjalanan di kiri kanan jalan tumbuh tanaman kopi yang belum berbuah. Bazartete adalah salah satu sub distric di distric Liquisa.

Pertemuan di Bazartete  di lakukan pada minggu 24 Juli 2011 pukul 11:30 siang, bertempat di biara Suster Monika “Escravas Do Sagrado Coracao De Jejus” , cuma 20 meter jaraknya dari gereja. Yayasan Suster Monika sendiri  bekerja melayani umat di Bazartete. Pertemuan ini diikuti  20 orang dari desa Fatumasi, Metago, dan Fahilebo, desa-desa itu yang keluarganya  banyak  tinggal di wilayah Indonesia khususnya Kabupaten Belu Nusa Tengara Timur. Hadir di pertemuan itu  lebih banyak orang tua , hanya ada 1-2 orang pemuda.

Tujuan dari pertemuan ini adalah : untuk menjelaskan secara rinci serta alasan gagalnya pertemuan di perbatasan antara komunitas Bazartete yang ada di Timor Leste dengan  komunitas Bazartete yang ada di Atambua –Indonesia pada sabtu 18 Juni 2011 lalu  , dan juga  mencari solusi konkrit untuk rencana selanjutnya. Serta menginformasikan kondisi keluarga yang masih tinggal di wilayah Atambua dan sekitarnya.

Pertemuan perbatasan (yang gagal dilaksanakan ) itu  di fasilitasi oleh  Yayasan Suster Monika, Cis Timor di Atambua  membantu melakukan konsulidasi dengan keluarga –keluarga yang tinggal di kamp dan settlemen di Atambua, semua biaya di tanggung oleh Yayasan Suster Monika.  Namun karena adanya miskomunikasi antara Imigrasi Indonesia dan Kemenlu di Dili, buntutnya pertemuan itu tidak jadi di lakukan. Imigrasi Indonesia menganggap bahwa informasi yang mereka terima dari Konsulat  Timor Leste di Kupang lewat surat terkesan mendadak, jadi mereka tidak punya waktu untuk melakukan persiapan dan lain sebagainya.

Dan juga untuk melakukan pertemuan di perbatasan harus ada surat dari pemerintah daerah setempat yang di tujukan kepada Imigrasi, TNI  dan Polisi perbatasan. Ini di maksud untuk menghindari hal-hal yang  tidak di inginkan terjadi di perbatasan saat pertemuan. Bagi mereka ini di lakukan karena program pertemuan perbatasan sudah tidak ada lagi.

Keluarga di Bazartete sangat merindukan keluarga mereka di Atambua dan sekitarnya untuk bertemu dan bahkan kembali  ke kampung halamanya paska jajak pendapat 1999 di Timor-Timur waktu itu, itu tergambar dalam pertemuan itu , bagi mereka masalah politik jangan di campur adukan dengan kehidupan sehari-sehari. Situasi di Bazartete sangat kondusif, rumah ,lahan perkebunan yang di miliki oleh keluarga yang masih tnggal   di Atambua tidak di tempati dan di garap, ini karena undang-undang di Timor Leste melarang bahwa tidak boleh mengarap dan tinggal di lahan yang bukan miliknya, untuk  itu keluarga di Bazartete sangat mengaharapkan  keluarga di Atambua untuk kembali., terlebih mereka yang berprofesi sebagai petani.  Berbagai cara mereka lakukan, dengan melakukan kunjungan ke Atambua pada tahun 2005 lalu untuk melihat kondisi keluarga mereka yang saat itu masih tinggal di kamp pengungsian, menulis surat dan rencana pertemuan di perbatasan yang gagal di lakukan.

Rekomendasi akhir dari pertemuan itu disepakati bersama untuk membuat video dan wawancara  keluarga di Timor Leste untuk di putar di keluarga yang masih berada di Indonesia.

Tujuannya ialah agar keluarga di Indonesia bisa melihat secara langsung situasi dan kondisi daerah mereka. Karena selama ini keluarga yang ada di Indonesia belum mendapatkan informasi yang benar mengenai situasi  daerah mereka di Timor Leste.

Pembuatan video ini akan di lakukan  oleh Charles Meluk dari The Frontiers salah satu anggota  Grupu Fila Hikas Knua.   

Pertemuan itu berakhir pukul 04:00 sore, saya, Mas Nug, dan Suster Monika kembali ke Dili. Kami kembali menikmati perjalanan sambil mendiskusikan  dalam mobil proses diskusi tadi.
****

 Ivonia & Claudia yang ramah  di Kantor “Menisterio Estrangerio”

Kantor yang megah, bercat putih, berlantai tiga , salah satu kantor Pemerintah “Menisteiro Estrangerio” Timor Leste yang dibangun oleh Pemerintah Cina. Ini kantor kedua dibangun oleh Cina, yang pertama di bangun adalah kantor presiden Timor Leste. Posisinya berada tepat di pinggir pantai hanya di pisahkan oleh jalan raya. Di depan  terdapat  pos security yang selalu memeriksa bagi tamu yang berkunjung.

Tertulis di dada kanan “Seguranca” dan dada kiri “Gardamor” pada seragam para security yang bertugas. “ cukup tinggalkan KTP saja, passport tidak usah” ujar seorang  security ketiga saya melapor.

Siang itu saya dan Suster Monika sudah berjanji untuk bertemu dengan Mana Ivonia dan Claudia di kantor itu pukul 03:00 sore. Untungnya ruangan mereka berada di lantai satu jadi tidak perlu capek  menapaki anak tangga. Mana Ivonia dan Claudia begitu kontras dari segi fisik, Ivonia itu memiiki tubuh ramping, kulit sawo matang, sedangkan Claudia itu gemuk, kulit hitam manis. Dua-duanya beramput panjang.


Mereka berdua yang mengkoordinir dan melakukan diplomasi dengan Konsulat Timor Leste di Kupang, Imigrasi Indonesia  untuk  pertemuan perbatasan  pada 18 Juni di Motaain yang gagal di laksanakan. Mereka sangat ramah, dan gaya bicara dengan bahasa tetum ala Dili.

Tujuan pertemuan ini untuk saling  berbagi informasi soal pertemuan perbatasan dan  juga  perkenalan saya dengan mereka. “ saya mendapat sms dari Nato juga kalau pertemuan di perbatasan itu gagal di lakukan, kita hanya dapat sms saja tapi belum lihat orangnya yang mana. Saya sangat berterima kasih karena Madre sudah membawa Nato datang ke sini.” Ujar Mana Claudia dengan  senyum.

Untuk melakukan pertemuan di perbatasan harus ada surat dari pemerintah daerah setempat yang di tujukan kepada Imigrasi, TNI  dan Polisi perbatasan. Ini di maksud untuk menghindari hal-hal yang  tidak di inginkan terjadi di perbatasan saat pertemuan. Bagi Imigrasi Indonesia  ini di lakukan karena program pertemuan perbatasan sudah tidak ada lagi.Informasi ini yang  saya baagikan kepada mereka berdua, dan mereka memahami akan kondisi itu.

Karena waktu yang mendadak, Imigrasi Indonesia tidak bisa mempersiapkan dan mengijinkan untuk di lakukannya pertemuan itu. Ini adalah pengalaman kita semua  juga menjadi pelajaran untuk ke depan.

Suster Monika memberitahukan kepada Mana Ivoni dn Claudia bahwa tidak akan melakukan pertemuan di perbatasan lagi, keputusan terakhir adalah membuat video di Bazartete untuk di berikan ke keluarga yang masih tinggal di Atambua.
Staf di kantor  ini berpakaian bebas ,santai dan rapi, sangat beda bila di bandingkan dengan kantor-kantor Pemerintahan di Indonesia yang mewajibkan berseragam pada stafnya setiap hari.

Saya meninggalkan  kantor “Kementrian Luar Negeri” Timor Leste  itu dengan perasaan lega dan senang. Semua persoalan sudah jelas tinggal bagaimana membenahinya  bila kelak  dilakukan lagi pertemuan di perbatasan itu.


*****

Malam Terakhir  Di Pondok HAK

“Itu nanti  kita bahas dalam pertemuan internal Grupu, yang terpenting sekarang kita membahas apa yang di pertanyakan oleh Nato, karena itu sangat pentinng sekali dalam kerja kita” kata Manuel  sambil mengakhiri sesi pertama jelang makan malam.

Pondok kecil di  kantor Yayasan HAK Farol Dili pukul 07:00 malam waktu Timor Leste , bersama dengan teman Grupu Fila Hikas Knua (Mas Nug, Suster Monika, Carlito, Mario dan Manuel) dan Cis Timor (Anato), kami melakukan pertemuan evaluasi kedua. Pertemuan  pertama pada Juni 2010 paska pemulangan 5 keluarga 12 jiwa  ke Dilor Viqueque. Beberapa teman grupu tidak hadir malam itu, kaena mereka mempunyai kesibukan tersendiri yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Di pondok kecil yang areanya luas seperti kamar kos itu di terangi  dua lampu neon, beberapa bangku panjang, dan dua meja, pas untuk kami berlima duduk dan membicarakan agenda kami, beberapa teman lain  di kantor HAK juga  datang untuk mendengarkan pembicaraan kami.

Malam itu hal teknis yang  kami bicarakan adalah; pemantapan koordinasi baik di Timor Barat Indonesia maupun  di Timor Leste, Situasi Timor Leste jelang pemilu tahun depan apa masih relevan memfasilitasi pemulangan,serta hal lain yang berakitan dengan data-data dan pengurusan dokumen-dokumen.

Menurut Carlito sebagai koordinator Grupu situasi dan keamanan di Timor Leste sangat  kondusif, tetapi bisa saja terjadi konflik jelang itu pemilu dan itu kita semua tidak bisa menebak, hal  itu di aminin oleh teman-teman yang  lain. Dan wajar saja menjelang Pilpres ada saja  orang selalu membua isue-isue yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu.

Menurut teman-teman lain bila ada keinginan warga eks pengungsi yang mau kembali tetap saja  memfasiltiasi mereka. “ Kalau pun ada orang-orang di dalam partai tertentu yang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk maksud lain  itu berarti hanya kepentingan pribadi dan itu bukan visi dan misi partai di  sini” kata Mas Nug.

Persoalan travel dokumen yang saat  ini sulit  didapat dari Konsulat Timor Leste di Kupang karena terbentur aturan hukum di Indonesia menjadi salah satu pembahasan malam itu, ada usulan dari Mas Nug kalau memang sulit mendapatkan travel dokumen dari Konsulat sebaiknnya meminta surat dari “Menisterio Estrangerio”, tetapi di lain pikiran Suster Monika mengatakan sangat sulit  karena untuk hal ini  Menisterio Estrangerio  tetap mempercayai Konsulat sebagai perwakilan mereka di negara lain untuk  mengurusnya. Yang perlu kita jelaskan kepada DEPHUKHAM Indonesia adalah ini persoalan pengungsi yang ingin kembali ke negara asal, jadi setidaknya mereka bisa mendapatkan dispensasi dengan cukup mengantongi “Surat Keterangan  Pindah Luar  Negeri” dari Dinas Kependudukan  setempat.

Teman-teman Grupu juga akan membuat surat yang  akan di tujukan kepada Pemerintah setempat dengan di lampirkan hasil kerja yang sudah di lakukan, hal ini di maksud untuk bisa membuka mata para pemimpin untuk bisa mendukung proses repatriasi mandiri ini.
                                             
“Itu nanti  kita bahas dalam pertemuan internal Grupu, yang terpenting sekarang kita membahas apa yang di pertanyakan oleh Nato, karena itu sangat penting sekali dalam kerja kita” kata Manuel yang di sambung dengan Mario. Saya sendiri mengangkat  persoalan persoalan teknis lain  seperti  koordinasi  yang masih lemah, berlarutnya hasil konsulidasi ke lapangan sehingga membuat proses pemulangan menjadi lama.
Untuk itu kami bersepakat bahwa setelah data di kirim ke Timor Leste  dan di lakukan klarifikasi di lapangan baru calon peserta repatriasi mengurus surat dari Desa atau Kelurahan sehingga mereka tidak menunggu lama itu untuk menjaga stok pangan mereka masih tersedia cukup.

Pertemuan yang berlangsung sederhana itu cuma berjalan dua setengah jam, malam itu cuma Mas Nug yang membawa laptop, sehingga saya memberikan kopyan data keluarga yang akan pulang namun belum tahu pasti waktunya.

Beberapa hal lain akan di bicarakan secara internal Grupu, karena beberapa persoalan penting yang di bahas nanti. Juga issue bahwa sebagian kecil orang yang berpendapat kalau masalah di dalam negeri belum selesai  sudah membawa masalah baru yaitu eks pengungusi yang katanya “ menyuruh “ mereka untuk kembali. Masalah ini langsung di jelaskan oleh Manuel “ kalau ada orang yang berbicara seperti itu berarti dia tidak mengerti persoalan yang sebenarnya, kami tidak menyuruh mereka untuk kembali tapi kami hanya fasilitasi kepulangan mereka, ibarat kami seperti sebuah jembatan yang membantu mereka bisa menyeberang”.

Malam makin larut, kantor  Yayasan HAK mulai kelihatan lengang tidak seperti awal pertemuan berlangsung, Waktu sudah menunjukan pukul 09:30 malam, selisih waktu satu jam dengan Indonesia tengah. Pertemuan pun diakhiri, Suster Monika pamit untuk kembali, sebelumnya Ia mengucapkan banyak terima kasih karena sudah luangkan waktu datang ke Dili dan Bazartete .

Saya juga minta ijin , kebetulan adik sepupu datang menjemput untuk tengok rumah sebentar. Di balik kendaraan yang saya tumpangi sekilas saya melihat Manuel dan Mas Nug masih terlihat berbincang-bincang di pondok itu. Ini malam terakhir, besok saya akan kembali ke Atambua.


****



Ket:
1. Menisterio Estrangerio = Kementrian Luar Negeri
2. Madre = Suster/rohaniawati
3. Seguranca = Pengamanan
4. Distric = Kabupaten
5. Sub Distric = Kecamatan
6.Grupu Fila Hikas Knua = Group yang bekerja untuk memfasilitasi    keluarga eks     pengung yang pulang dari Timor Barat
7. Yayasan Hak = salah satu Yayasan yang bekerja di bidang Hak Asasi Manusia, Yayasan ini di bentuk saat masih pemerintahan Indonesia
8. Escravas Do Sagrado Coracao De Jejus = Nama Kongregasi Suster di Bazartete.

Rabu, 20 Juli 2011

Perjalanan 5 keluarga 12 jiwa eks Pengungsi Timor-Timur kembali ke Dilor Viqueque -Timor leste


Hampir sebelas tahun lamanya tinggal di tempat pengungsian Timor Barat paskah jajak pendapat Timor-Timur tahun 1999 membuat sejumlah warga eks Timor-Timur hidupnya masih terkatung-katung terutama yang masih tinggal di kamp , tidak di pungkiri mereka yang berprofesi sebagai petani dan yang masih tinggal di kamp pengungsian juga yang masih tinggal di lahan milik warga lokal baik itu lahan pinjaman, kontrakan dan lahan penyerahan kini membuat mereka berpikir panjang akan kelangsungan hidup mereka yang lebih baik di masa mendatang. Kebutuhan ekonomi yang meningkat dalam rumah tangga, tambahan jumlah anggota keluarga dari tahun ketahun dalam rumah yang tinggal yang ukurannya hanya cuman untuk satu keluarga serta tidak di tunjang dengan ketersediaan lahan untuk di garap yang cukup membuat keputusan pulang kembali ke tanah kelahiran di Timor leste menjadi salah satu solusi yang terbaik.
Salah satu adalah 5 kepala keluarga 12 orang dari kamp Naibonat yang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran mereka pada tanggal 29 Juni 2010 di Suco Dilor dan Ahic Sub distritu Lacluta distritu Viqueque Timor Leste. Ini Keputusan yang begitu keluar dari hati nurani mereka sendiri memilih kembali ke Kampung halaman, dengan pertimbangan yang tepat tanpa ada paksaan dari siapupun.

Saya sedikit menceritakan proses pemulangan mereka 5 kepala keluarga 12 orang dari Atambua sampai ke penyerahan di kantor sub disritu Lacluta (kantor kecamatan Lacluta), karena saya ikut mengantar sampai ke tempat tujuan mereka, satu proses yang panjang dan penuh terharu di mana mereka menemukan kembali keluarga mereka yang ada di sana. Tidak ada dendam,tidak ada rasa amarah seperti yang di ragukan seblumnnya semuanya terjadi dengan damai tanpa ada rasa benci.

Terima kasih buat teman-teman sekalian baik di Timor Barat maupun di Timor leste, yang tergabung dalam kerja sukarelawan repatriasi ini yang sukses pada misi mulia ini , juga terima kasih buat Pemda NTT (Dinsos dan Sekda), Korem, Kodim Kupang, Polisi Timor Leste juga pemerintah Timor Leste (Konsulat Timor leste di Kupang, dan Kementrian Luar Negeri Timor Leste di Dili) yang telah membantu memperlancar proses repatriasi ini sehingga keduabelas warga Dilor dan Ahic sampai ke kampung halaman mereka.

*********************************
Ini Kisahnya:
---------------
Sore itu Selasa 29 Juni 2010 suasana di kantor Cis Timor Atambua nampak sibuk meyiapkan segala sesuatu baik akomodasi, makan minum dan lain sebagainnya untuk meyambut kedatangan saudara -saudara kita 5 kepala keluarga 12 orang warga eks pengungsi yang mau pulang ke kampung halaman mereka di Suco Dilor dan Ahic, sub distritu Lacluta distritu Viqueque Timor Leste dari kamp Naibonat Kupang, kabarnya sekitar sore pukul 16.00 wita rombongan repatriasi dari Naibonat Kupang tersebut akan masuk kota Atambua dan menginap semalam di kantor Cis Timor.
Waktu yang dinanti tiba, satu truck bantuan TNI dan satu bus Paris Indah sore itu telah parkir di depan kantor, waooohhh… rombongan telah tiba… kata saya dalam hati, nampak keduabelas orang warga Viqueque-Dilor turun satu-persatu dari bus sedangkan satu unit truck telah parkir di halaman kantor, mereka kelihatan capek sekali, banyak anak kecil sedangkan orang dewasa hanya berjumlah 7 orang ditambah pengantar 2 orang. perjalanan yang panjang kurang lebih 6-7 jam dari kupang ke Atambua. Salah satu dari warga Viqueque Mama Filomena Soares kelihatan sangat lemah sekali, kata Umbu salah satu relawan Cis Timor yang mengatar dari Kupang bilang ke saya “aduh Mama yang satu di dalam itu berat, muntah terus dalam perjalanan “.

Saya menengok sebentar ke dalam bus, ternyata Mama itu terkulai lemas didalam bus.”ayo…, bantu turunkan mama itu, di lemas sekali” akhirnya bapak-bapak yang lain membantu termasuk Antoni yang menjadi koordinator 12 warga yang pulang juga turut membantu.
“Tia ne haruka tama toba deit iha tofatin laran, ami perpar tia ona”(tante ini suruh masuk dan tidur di dalam saja kami sudah siapkan tempat”) saya mengatakan demikian karena Mama Filomena butuh istirihat karwna ia lelah sekali .

Setelah semuanya penumpang di turunkan lalu mereka istirahat untuk melepaskan lelah , ada yang mandi, cuci pakaian anak-anak mereka ada yang bersendau gurau di teras kantor kami. Bapak Antoni lagi sibuk di wawancarai oleh satu orang wartawan media online Indonesia yang bernama Koko, sebelumnya Koko sudah mewawancarai saya tentang proses repatriasi ini.

“Sebentar setelah beres-beres saya minta perwakilan dari masing-masing keluarga untuk kita serah terima beras, ikan sardine, piring gelas ya..?” kata saya demikian. Tak berapa lama perwakilan dari 4 keluarga sudah berada di luar halaman kantor yang satu nya belum muncul karena dia masih mandi adalah ibu Prisca. Teman teman Cis yang lain sudah siap untuk membantu proses serah terima ini, ada Wendy ,Ape sang fotografer Cis, Takur,Metos, Umbu, serta kawan-kawan lain yang turut membantu. Nano, Ibu Yanti sibuk di dapur untuk meyiapkan makan malam, pagi dan siang bagi kami semua termasuk 12 warga yang kembali.

“Baik, ini kami sudah siapkan beras, ikan sardine, piring, gelas dan sebagainya.., kami sudah pisahkan per kk, jadi nanti satu perwakilan maju untuk terima!” selesai memberikan pengarahan kami mulai membagikan barang barang tadi. Ini merupakan bantuan ala kadarnya dari Pemda Propinsi NTT ( DINSOS) serta Cis Timor, Teman Umbu sudah menyiapkan berita acara penyerahannya, semua berjalan sukses, setelah pembagian, barang-barang tersebut di naikan

kembali ke truck oleh masing masing perwakilan keluarga. Ibu Prisca adalah orang yang terakir menerima barang-barang ini.

“ Tia ho se deit, mesak deit ka?”(tante dengan siapa saja, sendiri saja ka) saya bertanya, karena dalam daftar Ibu Prisca cuman sendiri. “Hau mesak deit” (saya sendiri saja)jawabnya!

Malam telah tiba, tiba saatnya makan malam, Hmmmm…, Nano dan Ibu Yanti pintar memasak. Keduabelas warga Dilor, serta pengantar dua orang, semua relawan Cis Timor ,Bapak-bapak tentara dari Korem Kupang serta kawan lainnya yang turut membantu , malam itu menikmati santapan malam yang enak nikmatnya. Malam itu malam yang menyibukan, selepas makan malam , para ibu –ibu dan anak-anak lelap dalam tidur mereka. Bapak-bapak ada yang berbincang-bincang sambil menonton siaran sepak bola piala dunia di stasiun RCTI.

Saya sendiri masih melihat dokumen-dokumen kedua belas warga eks pengungsi ini agar besok sampai pos-pos di pintu perbatsan Motaain tidak repot-repot lagi.
“ Umbu, fotokopi surat yang lain dong su ok ko..,? termasuk surat kerangka mayat ( warag pulang membawa serta dua kerangka mayat untuk di kebumikan di Desa Dilor)?, saya su list daftar instansi-instansi baik di Indonesia maupun di Timor Leste” kata saya pada Umbu…, “aman bro, bu atur sa, sekarang saya su serahkan semuanya kepada bu semuannya, haaaaaheee…. “jawab Umbu sambil tertawa.

Sepertinya semua urusan dokumnen beres, tinggal surat pasport sementara dari konsulat Timor Leste di kupang, Mery Djami sudah mengirimkanya dari kupang malam ini juga. Jam dinding sudah menunjukan Pukul 23.00 wita, saya masih online internet, mau mengecek saja ada info dari teman di Dili atau tidak soal scenario penjemputan dan lain-lain ketika di perbatasan nanti., ternyata ada info dari Mas Nug bahwa teman-teman yang tergabung dalam Grupu Serviso Ba Repatriasaun akan tiba di perbatasan Motaain dari Dili sekitar pukul 11.00 waktu Timor Leste, akan ada enam orang.” Ok, yess!! everything Ok., kami akan ke perbatasan pukul 08.30 wita jawabqu lewat email.

Merasa puas, saya pun ingin pulang kerumah untuk beristrihat, malam itu intensitas koordinasi sangat tinggi ,baik lewat sms maupun telpon dan email. Dari kupang dengan Mery, Om Winston, di Dili dengan Mas Nug, Anceto Neves , Suster Monica dan teman lainnya.
“Bagaimana wawancara tadi dengan wartawan..?” saya berbicara kecil dengan Bapak Antoni, yang nama lengkapnya Antoninho Marques sebagai koordinator keduabelas warga Dilor ini sebelum saya pulang kerumah “ya saya bilang kami pulang ini berdasarkan pertimbangan yang matang, tidak ada pemaksaan dari siapapun , kami sudah rindu untuk bertemu dengan keluarga di sana (Viqueque-Lacluta Suco Dilor dan Ahic. red)!
Saya senang mendengarnya karena keputusan pulang kembali ke kampung yang merka ambil merupakan pilihan yang tepat bagi keduabelas warga ini, ini hati nurani mereka yang mengatakan karena rindu akan kampung halaman.

Pagi itu Rabu 30 Juni 2010, pagi yang cerah sekali , pukul 08.15 wita deru mesin truck tentara dari Korem Kupang terdengar, satu unit mikrolet yang di carteran pun sudah berada di halaman kantor, itu tandanya persiapan berangkat menuju ke perbatasan Motaain tingal beberapa menit lagi.
“ Semua warga yang pulang dan dua orang pengantar naik di mikrolet saja, teman-teman lainnya bisa di truck dan pake motor.” kata saya demikian. Kerja tim yang solid dalam waktu 15 menit semua persiapan sudah Ok, makan siang, snack dan lainya sebagainya sudah di siapkan.

Butuh waktu 30 menit kami tiba di perbatasan Motaain dari Kota Atambua, wah.., ternyata ada salah seorang ibu yang naik microlet mabuk dan sempat muntah di perjalanan tadi ketika tiba di Pos Motaain , saya kurang tahu siapa Ibu itu, heeee… lupa di cek.

Tanpa lama menunggu kami harus melapor dengan membawa dengan dokumen –dokumen perjalanan yang sudah di siapkan.

“ Pak, ini kami ada fasilitasi pemulangan Pak dari Naibonat Kupang, 5 kepala keluarga 12 orang. ini surat dari Kodim Kupang dan surat dua kerangka mayat Pak, serta tiga orang pengantar dengan pasport termasuk saya sebagai relawan yang membantu mengantar sampai ke tempat ujuan!” kata saya di pos Polisi Indonesia yang merupakan pos pertama yang harus kami lalui saat pemeriksaan.

“ Wah suratnya banyak sekali, ada berapa rangkap yang harus di tandatangani..?” kata salah seorang Polisi yang saat itu lagi bertugas , “ada 17 rangkap Pak ,semua sudah di list nanti akan di berikan masing-masing satu rangkap termasuk di pos Polisi ini!” kata saya pada Pak Polisi. Teman-teman yang lain juga ikut andil dalam proses pemeriksaan ini.

Tampaknya tidak terlalu rumit pemerikasaan di pos pos perbatasan baik itu di Indonesia maupun di Timor leste sendiri, para petugas di perbatasan sudah tahu kalau apa yang mereka akan lakukan di saat ada pemulangan atau repatriasi. Kami harus melewati tujuh pos pemeriksaan, pos Polisi Indonesia, Imigrasi, Beacukai, dan TNI, untuk di Timor Leste yaitu pos Imigrasi, Karantina dan Beacukai. Butuh waktu satu jam untuk proses tanda tangan surat –surat di perbatasan.

Semua telah di dilewati, tinggal di pos Karantina dan Beacukai Timor Leste. Teman-teman yang tergabung dalam Grupu Serviso Ba Repatriasaun dari Dili belum tiba, kami menunggu kedatangan mereka di pos Polisi Timor Leste Selama 30 menit

Mas Nug memberitahukan kepada saya lewat sms bahwa Suster Monica dan 6 orang lainnya yang akan menjemput kami di perbatasan. Saat menunggu itu kami saling koordinasi, Umbu, mery,Om Winston, Mas Nug lewat hp masing-masing. Di perbatasan kami juga membawakan seorang wartawan media Indonesia untuk meliput, tujuannya ialah untuk memberitakan lewat media bahwa ternyata masih ada keinginan warga eks pengungsi Timor-Timur yang tinggal di Timor Barat terutama di kamp-kamp pengungsian untuk pulang ke tanah kelahirannya.

Penantian selama 30 menit berlalu, teman-teman dari Dili tiba di perbatasan, dari jauh kami sudah saling melambaikan tangan, tandanya kami sudah rindu karena lama tak bersua.” Itu mereka sudah tiba” kata saya. Ada Suster Monica, dan Suster Dhay (dari ESCJ), Mario (JRS),Maleve, Charles dan Emily Wang (The Frontiers ), Oligario (Verupuk ), Maun Carlito (Ita ba Paz), dan seorang wartawan dari Timor pos di Dili. Wah.., ternyata mereka ada 9 orang, kami semua saling bersalaman dan ada yang berpelukan, tidak hanya kami tetapi juga keduabelas warga yang pulang serta yang lainnya. Apa kabar…apa kabar..? diak ka lae…? Hotu-hotu diakdeit ka.., Lanu ka , koleh ka? ( semuanya baik-baik saja, mabuk ya, capek ya?) saya mendengar kata-kata itu, entah siapa yang mulai berbicara, saya tidak memperhatikannya lagi karena kami semua larut dalam kegembiraan di pertemuan itu.

Lama kita kangen-kangenan, semua barang bawan 12 warga dari truk TNI telah di pindahkan ke damp truck Timor Leste, semua penumpang di naikan ke mobil truck tertutup PNTL (Polisi Nasional Timor Leste), teman teman Cis Timor yang mengantar sudah kembali ke Atambua, “sampai ketemu kembali teman-teman di Atambua” teriak saya di saat mereka sudah berangkat. Saya diutus dari lembaga Cis Timor untuk mengikuti dan mengawal proses repatriasi ini sampai ke tempat tujuan di Suco Dilor dan Ahic bersama-sama dengan teman-teman dari Timor Leste.

“ Prontu ona, ema hotu sae ona, hau sura lai….(sudah siap semua, semua orang sudah naik, saya hitung dulu )?” kata Maleve salah satu sukarelawan dari Grupu ini, ia mengitung jumlah warga yang pulang 12 orang dan dua orang pengantar jadi total 14 orang. Saat itu hadir juga 2 orang staf dari Kementrian Luar Negeri Timor Leste di Dili, mereka juga turut mengecek kepastian keduabelas orang yang pulang tersebut.

Perjalanan ke Dili dari Motaain memakan waktu 3 jam, sedikit terhambat di Karantina dan Beacukai Timor Leste, barang bawaan warga salah satunya tanaman bunga harus di turunkan, karena aturan dari Karantina bahwa hewan, tumbuhan lainnya , bibit tidak boleh di bawah bila keluar negeri.

Ketika di Pos Karantina dan Beacukai Timor leste, sempat ada pemeriksaan yang ketat dari petugas karantina, di wilayah Timor Leste semua pembicaraan sudah menggunakan bahasa tetum dan dalam penulisan ini saya sudah menterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

“ ah, ini bunga-bunga dan padi ini harus di turukan, karena tidak di ijinkan untuk masuk ?” kata seorang petugas karantina setelah ia melihat daftar barang yang ada.
“begini, padi ada dalam karung dan itu semuanya ada pada bagian bawah sekali, kalau mau turunkan silahkan saja, kami tidak ada orang untuk kasih turun barang ini!” kata Maleve pada petugas itu, nampaknya akan ada debat nehh.... wah gawat !! kata qu dalam hati.
“ Dari tadi pas pindah barang di pos Polisi sana tidak mau periksa , sekarang orang-orang sudah mau berangkat mau suruh periksa barang, pokonya jalan saja” wah ternyata ada teriakan dari seorang Polisi Timor Leste yang mengawal kami ke petugas Karantina.
Akhirnya Maleve dengan menggunakan improvisasinya serta kepiawainya untuk bisa bernegosiasi , dan akhirnya kami berhasil petugas Beacukai dan Karantina memberikan kami untuk melanjutkan perjalanan, tetapi bunga-bunga tetap di turunkan di pos itu.Memang Maleve hebat, maklum dia mantan Clindestein sewaktu di jaman Indonesia, jadi sudah taulah kalau berhadapan dengan orang-orang itu.

Ada 3 kendaraan yang berkonvoi dari Motaain sampai ke Dili ,satu damp truck yang mengankut barang, satu truck PNTL untuk penumpang dan satu mobil Hilux milik Suster Monica, kami semua terbagi di tiga kendaraan itu..
Kira-kira pukul 18.00 waktu Timor Leste kami tiba di kota Dili, waktu di Timor Leste lebih cepat satu jam dari waktu di Indonesia tengah, di Dili semua warga yang akan ke desa Dilor menginap semalam RENETIL samping KBRI di Farol. Cukup lelah memang perjalananya, termasuk saya juga merasakannya bagaimana di guyur hujan sepanjang perjalanan dari Liquisa sampai masuk Dili. Saya sedikit terkena flu dan batuk mungkin karena dingin dan debu sebelum hujan tadi, maklum posisi duduk saya di luar mobil Hilux pickup.

Saya bersama teman-teman Grupu Serviso Ba Repatriasaun bersantai sejenak di kantor yayasan HAK malam itu , teman-teman masih mendiskusikan rencana keberangkatan besok ke Viqueque, hal yang urgent adalah pada transportasi besok. Karena sudah malam saya pamit pulang dan menginap di rumah Mas Nug dan Mbak Titi di Fatuhada Merconi.

Menurut kabar yang saya dengar malam itu , bahwa kedubelas warga serta pengantarnya di kunjungi oleh Wakil Komandan Jenderal Polisi Timor leste Bapak Afonso De Jesus dan beberapa anggotanya, mereka ingin melihat langsung keberadaan warga tersebut. Saya tidak ada di tempat itu saat kunjungan , karena capek saya memilih istirahat dan makan malam bersama Mas Nug , Mba Titi serta Sigih salah satu teman dari Jepang.

Malam itu Mas Nug mengatakan kepada saya :“untuk transportasi besok semua sudah beres, Polisi di Dili siap membantu satu unit kendaran untuk mengantar sampai ke Suco Dilor dan Ahic”. Sebab kendaran PNTL yang mengawal dan mengatar dari perbatasan sampai Dili saja, jadi harus butuh kendaraan lain untuk mengantar sampai ke Suco Dilor dan Ahic sub distric Lacluta.

Pagi itu 1 juli, di kota Dili ibu kota negara Timor Leste suasana nampak ramai sekali, semua orang sibuk akan aktifitasnya, kendaraan lalu-lalang dan sangat padat sekali di pagi itu. Saya dengan Mas Nug bergegas dari kerumah ke tempat tinggal para warga yang mau pulang dengan menggunakan motor Yamaha scorpion milik Mas Nug, sebelumnya saya mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke Viqueque dan terus ke sub distritu Lacluta. Mas Nug tidak ikut mengantar karena satu dan dua hal, ia masih sibuk dengan urusan kantor yang padat.

Pagi itu di tempat transit Renetil, kami melihat persiapan warga yang telah menyiapkan barang-barangnya termasuk dengan anak-anak mereka. Di sela-sela itu kami di kunjungi oleh Komandan Polisi distritu Viqueque (Kapolres) yang ternyata baru tiba dari Viqueque tadi malam .Beliau melihat langsung keduabelas warga itu, dan beliau mengatakan bahwa mereka sudah mengontak ke Lacluta serta juga kedua safe Suco (kepala desa) Dilor dan Ahic akan kedatangan saudara-saudaranya dari Kamp Naibonat Kupang. “ hmmmm…asyk dong kalau semuanya sudah tahu kedantangan kita, pasti mereka di sana juga lagi menunggu “ kata saya pada Antoni.

Hari sudah siang, kendaran yang di tunggu belum juga muncul, padahal kami semua sudah siap untuk mau berangkat, Maleve mengatakan dalam pertemuan singkat kami “ sekarang kita masih menunggu kendaraan dari kePolisian, sebaiknya kita makan siang saja dulu karena ini sudah siang setelah itu baru berangkat” dan kami semua setuju.

Hari semakin sore, Susana di Kantor Yayasan HAK Dili terlihat santai saja, detik demi detik jam pun berjalan terus tanpa henti, kendaraan yang di tunggu tak kunjung datang, Maun Carlito sibuk menelpon Komandan Polisi untuk menanyakan kepastian kedaraan yang di janjikan, “ Carlito, bagaimana dengan kedaraan, apa sudah positif “ kata Suster Monica tiba-tiba pada Maun Carlito…, “ saya masih menunggu keputusan dari mereka Suster, kalau sudah ok mereka akan kontak” kata Maun Carlito yang sebagai koordinator Grupu Serviso Ba Repatriasaun ini.

Maleve sepertinya tidak sabar menuggu, ia melihat sepertinya ada yang tidak beres. Karena itu ia langsung menelpon salah satu orang ternama di Kota Dili untuk meminta bantuan satu unit kendaraan , orang itu adalah Bapak Mari Alkatiri mantan Perdana Mentri Timor Leste, yachhh.. beruntungnya Bapak Mari Alkatiri setuju untuk memberikan satu unit dan truk kepada kami, wahhh… leganya kami sore hari itu kendaraan sudah ada dan gratis lagi…..!!!

“ Ok, kita tidak usah tunggu lagi kendaraan dari Polisi, karena kita sudah mendapatkan mobil Suster” kata Maleve lewat telpon kepada Suster Monica. Ya karena mobil Polisi yang di tunggu tidak datang jadi semua sibuk untuk mencari kendaran lain, untungnya ada Maleve ee…, sehingga semunya jadi beres. Sore itu kami berangkat dari Kota Dili menuju Viqueque tepat pukul 15.00 waktu setempat, ada 2 truck dam dan satu mobil hilux milik Suster Monica, kami melewati distritu Manatuto, Baucau untuk bisa sampai ke Viqueque. Dan kami berhenti sejenak di Baucau untuk makan malam.

Sekitar pukul 22.00 malam waktu Viqueque, kami tiba di kantor Administrador (kantor Bupati ) Viqueque dan kantor kePolisian Viqueque yang yang kebetulan kantornya berdampingan saja , sewaktu kami masuk Viqueque hujan turun, untungnya kami sudah mempersiapkan semuanya seperti terpal, Suster juga menyiapkan obat-obat dan popok untuk anak kecil dalam perjalanan. Malam itu kami di terima oleh anggota Polisi dan mereka sudah menyiapkan satu aula untuk kami menginap di situ. Mama Filomeno Soares lagi-lagi tampak lemah , ia bersama Bapak Gilberto ,saya ,Mario serta Suster Monica dan Suster Dhay memilih menginap di Penginapan malam itu.

Pagi itu 2 juli, di kota Viqueque di guyur hujan, menurut warga setempat kalau sudah hampir dua minggu ini hujan, apa lagi kami mendapat kabar bahwa ada tanah longsor yang menutupi badan jalan. “ wah gimana ini kita mau sampai di Lacluta Dilor dan Ahic, kalu hujan terus “ kata saya pada teman yang lain, kami semua was-was kalau dengan kondisi hujan seperti ini bisa bahaya neh..!!Tiba-tiba Maleve datang dengan memakai baju kaos tim sepak bola Argentina, “ hari ini kita tetap berangkat ke Lacluta, jalan yang tertutup karena longsor sudah di perbaiki, nah sekarang siap-siap kita kan bertemu dengan Kepala Administrador dan wakil komandan polisi Viqueque” kata Maleve, dan saya pun senang mendengar kabar itu.

Sebelum berangkat, kami semua masih bertemu dengan kedua pejabat itu, mereka mengatakan senang dengan kerja kami, senang karena warga mereka kembali ketanah kelahiran mereka “ jangan takut, kalian kembali kerumah kalian sendiri, kalian bisa langsung mengerjakan apa yang ingin kalian kerjakan , karena tidak ada yang mengambil hak kalian, kami Pemerintah dan Kepolisian ada di belakang kalian dan masyrakat lainnya, jangan terprovokasi dengan isu-isu bahwa kalau datang di sini akan di pukul, di maki dan lainnnya, kami kemarin sudah mengontak Pak Camat, Kepala Desa Ahic dan Dilor, Kepolisian disana untuk menjemput kalian di perjalanan. Sekali lagi kami berdua sebagai kepala Pemerintah di sini dan kepolisian di sini mengucapkan selamat datang, selamat kembali ke kampung halaman “ kata Bapak Administrador dan Wakil Komandan Polisi Viqueque.

Hujan makin deras, pukul 11.00 waktu Viqueque kami berangkat menuju ke Lacluta, ini pertama kali saya datang di Viqueque dan Lacluta, perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami di kawal oleh Patroli Polisi Viqueque, kira-kira kurang lebih 10 km memasuki distritu Lacluta, ada pergantian Polisi, pengawalan di ambil alih oleh Kepolisian dari Lacluta yang sudah menuggu di jalan. Perjalanan kami melewati kali kecil, syukurlah, kendaran kami bisa melewati kali itu karena belum banjir. Kami tiba di Lacluta sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Inilah saat yang di tunggu-tunggu, kurang lebih satu kilometer akan tiba di kantor Polisi Lacluta, terdengar bunyi klakson dari dua motor Polisi yang mengawal “wah berarti kita sudah sampai ini Suster” kata saya pada Suster Monica yang satu mobil. “ ya sepertiya kita sudah sampai” kata Emlya dan Suster Monica bersamaan. Warga di sekitar berhamburan keluar untuk melihat kedatangan warga dari Timor Barat ini, tua dan muda, anak kecil dan orang dewasa, mereka berlarian menuju ke kantor Polisi Lacluta. Kami sudah sampai, inilah Lacluta ternyata Suco Dilor dan Ahic merupakan dua Suco yang berada di tengah kota lacluta dan saling berdekatan saja.

“ aahh, sial batrey cameraqu low , ini harus cari batrey alkaline saja” kata saya . ternyata di kios tidak ada yang menjual batrey alkaline, saya memotret dengan paksa saja. Warga di sekitarnya sudah berdatangan, kami yang memegang kamera langsung memotret. Saya melihat Ibu Prisca yang masih diatas truck megusap air matanya sambil menggendong seorang anak lelaki kecil dan di temani oleh seorang pemuda, ia menangis dan terharu karena pemuda itu adalah adik kandungnya yang tinggal di Dilor. “ ne adik saya, dan ini anak saya” kata dia pada salah seorang relawan. Wah tidak tahan mendengarnya, sedih dan terharu rasanya saat saya memotret, mereka akhirnya di pertemukan kembali di kampumg halaman.

Ibu Prisca turun dari truk dan melangkah masuk ke kantor Polisi untuk mengikuti seremonial singkat penyerahan kepada Pemerintah Kecamatan setempat bersama sebelas orang lainnya dan dua orang yang mengantar termasuk kami semua . Mereka sangat bahagia, keluarga mereka yang lain datang memeluk, bersalaman serta saling bercerita. Saya melihat Ibu Prisca ada menggendong dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan kira –kira berumur 4 tahunan gitu, saya langsung memotretnya…. Lalu saya bertanya..” kenapa menangis ibu, dan dua anak ini siapa?”
“ saya terharu karena saya bertemu kembali dengan kedua anak kandung saya, tahun 2009 saya membawa mereka kesini, kemudian saya kembali ke Kupang untuk mencari jalan agar bisa kembali ke sini, selama ini kedua anak ini tinggal dengan kakek dan nenek mereka.” Kata Ibu Prisca masih dalam keadaan menangis. Air mata saya berlinang mendengar kisah ini, saya keluar dari ruangan dan sengaja tidak merasakan apa-apa, tetapi jujur saya katakan ketika berada di luar saya mengusap air mata (saat menulis ini pun air mata saya terasa penuh di mata). Kedua anak Ibu Prisca itu bernama Dilma dan Ania, kedua anak yang sehat dan imut, mereka masih kecil mereka berdua pasti merasakan apa yang terjadi saat itu walau masih kecil.

Saya masuk kembali ke dalam ruangan kantor Polisi untuk melihat upacara seremonial singkat dari kami tim kepada Pemerintah setempat, nampak sudah hadir safe Suco Dilor Bapak Antoni Soares ,Safe Suco Ahic Bapak Oesilo Soares serta komandan Polisi distritu Lacluta.
“ Pertama-tama kami mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian tim semua yang telah bekerja memfasilitasi kepulangan warga kami dari Kupang kerja kalian sangat berharga dan special sekali, untuk itu kami berharap besok lusa bukan hanya warga kami saja yang kalian bantu, tetapi mungkin mereka yang dari daerah lain yang mau pulang pun kami berharap kalian bisa membantunya.” Kata Safe Suco Ahic.

Acara ini di lakukan dengan singkat, dari tim kami Maleve yang menjadi juru bicaranya, kami menyerahkan semua dokumen-dokumen kepada Pemerintah Suco dan Kepolisian di sub distritu Lacluta . Setelah itu kami semua berbondong-bondong mengantarkan keduabelas warga ini kerumah mereka dengan berjalan kaki kurang 500 meter dari kantor Polisi dengan susana terharu walupun di guyur hujan. Semua yang mengantar basah kuyup, termasuk anggota Polisi. Maaf saya memilih untuk tidak kena air hujan karena ada flu berat, heeee…!! Karena masih hujan, satu kendaraan truk yang membawa barang-barang tidak bisa meneruskan perjalanan karena tertanam di Lumpur.

Kasihan , barang-barang keduabelas warga terpaksa harus di turunkan agak jauh dari rumah. Tetapi dengan semangat warga yang membantu serta tim kami, semua barang berhasil di turunkan dari truck, walupun sedikit basah karena terkena air hujan, tapi tidak apa-apa yang penting pekerjaan berat selesai dan truck pun berhasil di tarik keluar.

Sebagai perwakilan dari tim kami, Maleve sebagi pembicara untuk meminta izin pamit dan berterima kasih kepada semua warga yang telah membantu proses ini. “ kami sekarang mau kembali , kami minta semua warga di sini untuk bisa membantu mereka yang baru datang, kami juga sedikit memberikan mereka beras, supermi ,dan minyak goreng. Ini untuk mereka keduabelas orang yang baru datang, karena mereka baru datang minimal selama 3 bulan mereka makan dari bantuan yang kami berikan sambil mengolah kebun mereka, dan kami akan memonitoring mereka selama tiga bulan bagaimana perkembangan hidup mereka. Nanti akan ada teman kami yang datang memantau , dan itu akan kami kabarkan kepada saudara-saudara mereka yang masih tinggal di Kupang. Sekarang kami pamit selamat bertemu kembali di lain waktu” kata Maleve menutup pembicaraan.

Kami pun bersalaman satu sama lain, Mama Filomena Soares yang tadi lemas nampak bergembira saat kami mau pulang, Bapak Gilberto, Ibu Prisca melambaikan tangan di saat kami sudah berada di dalam mobil masing-masing. Akhirnya kami berpisah, kami melanjutkan perjalan pulang kembali ke Dili . Selamat bertemu kembali saudara-saudraqu, semoga Tuhan memberkati kalian semua di sana.

By:
Anato Moreira



NB: Minta maaf kalau penulisan tempat dan nama orang terdapat kesalahan. Maklum bukan penulis yang baik, dan tulisan ini saya buat sebelum mengikuti kursus JS di Pantau, terima kasih!!!

Keterangan tambahan:
---------------------------
*Suco: Desa
*Safe Suco : Kepala Desa
*Distritu : Kabupaten
*Sub Distritu : Kecamatan
*Administrador : Semacam Kepala wilyah

Sabtu, 16 Juli 2011

Mbak Ida dan warung kopinya


“Awalnya bukan di sini, sering  pindah-pindah. Sekarang baru menetap di sini ” kata mbak  Ida yang punya warung dengan dialek Sundanya  sambil  mengaduk  segelas susu jahe sore itu. Mereka tiga bersaudara, kakaknya  yang sulung juga membuka usaha yang sama. Mbak Ida bersama adik bungsu laki-laki bergantian menjaga  warung ini.
Warung kopi  sebutannya, berada 10 meter  di depan kantor  Yayasan Pantau Kebayoran lama. Bukan  minuman kopi saja yang di jual, ada me rebus, gorengan, bubur kacang hijau,  roti bakar, dan telur. Harganya murah meriah. Saya selalu sarapan pagi di warung ini selama mengikuti kursus “Jurnalisme Sastrawi” di Jakarta. Warung ini bukanya  24 jam,  yang datang minum atau makan di sini pun orang-orang di sekitar, juga para sopir angkot.
“Udah berapa lama buka warung ini mbak”
“ Dulu Bapak yang kelolah dari tahun 1989, tapi karena udah tua ya gantian anak-anak yang ngurusin”
“Kalo Mbak sendiri sejak kapan ngurusnya”
“ Dari tahun 2000”
“Wah..berarti  udah  lama juga”
“Iya, tapi awalnya bukan di sini, pindah-pindah. Sekarang baru menetap di sini ”
“Kenapa pindah-pindah mbak?”
“ Ya karena kurang cocok aja ma tempatnya yang dulu, dan kurang laku jadi di tutup sebentar terus buka lagi”
“Ooooh..”
Mbak Ida berasal dari Sunda -Jawa Barat, Ia baru menikah 6 tahun yang lalu, tapi sampai saat ini belum juga di karuniai anak. Setiap pagi bangunya jam empat  untuk mengantikan adiknya yang jaga semalam.  Suaminya  bekerja sebagai  seorang  tukang dekorasi. Kedua orang tua sekarang berada di kampung, kerja sehari-harinya  bertani. Warung yang di kelolah bersama adik bungsunya sekarang juga berfungsi sebagai tempat tinggal.

“Abis mau sewa di mana lagi, tempatnya sewa mahal, jadi sekalian aja jadi tempat tinggal” sambung Mbak Ida  di sela-sela cerita.
“Apa sering berkunjung ke kampung  jenguk orang tua ya Mbak”?
“ya ,sebulan sekali ke sana ”
“ Mbak juga membiayai orang tua di kampung?”
“Iya kadang kalo bukan Aku yang ngasih, bararti kakak sulung, ganti-ganti gitu”
“Ada pikiran untuk  usaha lain selain buka warung ini Mbak?
“Ah tidak ada”

Warung Mbak  Ida ramai dikunjung  orang bila pagi dan sore hari, siang  agak sepi. Mbak Ida pekerja keras, Dia merasa senang dengan usahanya sekarang , walaupun kecil tapi bisa membiayai kedua orang tuanya di kampung dan kebutuhan hidup  keluarga sehari-hari di Jakarta .





Kamis, 14 Juli 2011

Murah di Jakarta, Mahal di Atambua...



“Aahhh.... ko murah ya ?” guman saya dalam hati seraya mengambil uang lima puluh rIbu rupiah untuk membayar sarapan pagi  dua piring masing-masing  nasi  telur tambah tempe dan nasi ikan di warung kecil  yang letaknya di depan kantor Pantau.
Pagi itu selasa (5/7) rencana ke kantor Pantau untuk mengerjakan tugas pertama  yang di berikan oleh Janet Steele. Tik...tik..tik  terdengar Bunyi  arloji  tangan saya  sudah menunjukan jam 9:30,  janjian sama teman lain untuk bertemu di kantor Pantau jam 10:00. Dengan memakai celana jeans hitam, kaos biru dan selempang adat  Timor (tais) yang melingkar di leher,  cepat-cepat saya ayunkan langkah kaki untuk menuju ke kantor Pantau. 
Kurang dari sepuluh menit  perjalanan dari kos menuju kantor Pantau yang letaknya di pinggir jalan kebayoran lama nomor 18 CD lantai empat. “Hai selamat pagi semuanya” sapa saya kepada teman lain yang  sudah hadir sebelumnya. Mereka sedang  mengerjakan tugas  sambil  wi-fi dan lain sebagainya.  Baru tiga puluh menit berada di dalam kantor, perut saya sudah merengek-rengek untuk di  isi dalamnya, maklum  tadi belum sarapan, apa lagi untuk menuju ke  lantai empat harus berjuang menapaki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit jadi pantas lapar lah. 
“Yuk saya sarapan dulu , lapar nih..” kata saya  sambil pamitan dengan teman yang lain, salah seorang teman peserta kursus  dari Minahasa Denni namanya juga ingin makan dan kami pergi bersama. 
Tepat di pinggir jalan depan kantor Pantau kira-kira sepuluh meter  terdapat seBuah  warung makan kecil berdinding tembok tua. Di dalamnya terdapat meja makan berleter U  lebar 50 cm dan beberapa kursi plastik. Menunya macam-macam ada ikan, tempe-tahu,telur, perkedel ,rendang dan sayuran lainnya.
“Wah ini sama dengan di Atambua nih menunya” sedikit berbisik  pada Denni, dan denni cuma senyum saja. “saya nasi telur  saja ya Bu” kata saya pada Ibu pemilik warung yang sudah dengan cepat menyendok nasi dari  termosnya  “ pake kuah ya?” sambung  Ibu itu dengan bertanya. “ya, tapi dikit aja” kembali jawab saya.
Saat sedang makan, ada dua gelas teh yang di hidangkan, saya berpikir perasaan  saya tidak pesan minuman teh tadi  kok di kasih teh. “ di sini gitu, kalau mesan makan langsung di kasih minuman itu” kata Denni di sampingku. Maklum baru ke Jakarta jadi belum tahu apa- apa  di sini,  apa lagi teh itu tawar dan tidak di beri gula wah ini beda sekali dengan di Timor umunya.
Hampir 25 menit  berada di dalam warung, “berapa Bu harganya” kata saya  sambil membuka dompet dan mangambil selembar uang lima puluh ribu . “dua-duanya tiga belas ribu “ kata Ibu itu. Saya kaget dan heran, dalam hati saya mengatakan kok murah ya makananya kalau di Atambua makanan itu harganya  sudah dua puluh ribuan itu kalau yang di warung pinggiran, kalau warung padang lain lagi ceritanya.
Sambil berjalan keluar dari warung saya masih bercerita dengan Denni soal harga makanan yang murah tadi. Di Atambua  makan di warung pinggiran atau di  tenda harganya sedikit mahal dari warung di Jakarta. Mungkin karena daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, kehadiran lembaga PBB dan LSM Internasional yang bekerja  saat pertama pengungsian serta pengaruhnya mata uang dollar Amerika  yang masuk dari Timor  Leste sehingga membuat harga barang di Atambua  mahal.

Dua Anak Kecil Yang Menggemaskan...

Jam sembilan  pagi  di depan halaman rumah  kos yang tak jauh dari kantor Pantau kira-kira 500 meter  jaraknya,  dengan jalan masuk yang lebarnya cuma  2 meter dan saluran air kecil di samping kiri  kanan jalan , masih  terasa  segar udaranya pagi ini. Di halaman rumah terdapat tanaman rumput hijau yang terpotong  rapi  nampak masih basah karena embun pagi . Beberapa motor anak kos berbagai merk  sedang parkir di atas teras dan juga satu buah sedan merah  yang  masih berada di dalam garasi. 
Sepatu dan sendal  laki-laki maupun perempuan masih  berserakan di teras depan maupun di belakang  rumah , kicauan burung  di dalam sangkar yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang membuat suasana pagi itu seperti di firdaus . Halaman rumah kos ini   luasnya  tidak lebih dari lapangan badminton  itu berpagar pintu besi berwarna biru setinggi satu meter lebih. Suara orang –orang terdengar  di sekitarnya menandakan mereka sibuk  dengan kegiatannya masing-masing, termasuk ibu kos dan anak-anaknya. Pagi  itu pintu gerbang yang kecil sudah terbuka lebar.  Di halaman  itu terdapat  dua anak kecil  yang manis, imut dua-duanya berambut hitam dan pendek   sedang bermain, melompat di halaman sambil  berlari dan tertawa.
“De..de....de... ke sini  jangan main di situ, nanti jatuh ” tampak salah seorang anak bernama Neni (5)  bertubuh kecil ,  putih,  berbaju pink dan bercelana pendek putih  sedang menegur seorang anak  kecil  (2) berbadan gemuk , bulat dan  putih seperti  boneka  untuk tidak bemain terlalu jauh dari nya.
“Hahahaha...hehehehe” tawa anak yang paling kecil menghangatkan suasana pagi itu sambil berlari-lari saat di tegur oleh kakanya, ia nampak ceria sekali. Siapa pun gemas kalau melihat anak itu, sudah gemuk  manis dan imut lagi. Yang di tegur itu adalah adik bungsunya yang saat itu sedang mengenakan baju singlet putih dan memakai  pampers.
Adiknya yang kecil itu berlari-lari sambil memakan sesuatu di tangannya, sepertinya cokelat atau biscuit. Sesekali  dia berlari menghampiri motor yang di parkir  serta ayunan di situ.
Hampir setiap pagi bila pintu gerbang di kos terbuka  , kedua anak itu sering bermain di halaman rumah kos ini , rumah mereka berada di sampingnya, mungkin karena halaman  rumah mereka sempit jadi tidak ada kesempatan untuk mereka bisa bermain sambil berlari-lari, paling bisa di jalan gang masuk  saja. Mumpung rumah tetangga jadi kedua anak kecil sudah akrab bermain  di halaman rumah ini.  Sesekali  ibunya memanggil mereka berdua kembali ke rumah  untuk memberi  makan bagi si kecil.
Sepertinya  rumah dengan  halaman yang cukup dengan pola penataan yang baik , akan memberikan ruang gerak dan pertumbuhan  pada anak-anak  untuk bisa bermain, berkreasi , sehingga  anak-anak tidak terlalu bosan ketika hanya berada di dalam rumah.