Postingan

Perjalanan 5 keluarga 12 jiwa eks Pengungsi Timor-Timur kembali ke Dilor Viqueque -Timor leste

Gambar
Hampir sebelas tahun lamanya tinggal di tempat pengungsian Timor Barat paskah jajak pendapat Timor-Timur tahun 1999 membuat sejumlah warga eks Timor-Timur hidupnya masih terkatung-katung terutama yang masih tinggal di kamp , tidak di pungkiri mereka yang berprofesi sebagai petani dan yang masih tinggal di kamp pengungsian juga yang masih tinggal di lahan milik warga lokal baik itu lahan pinjaman, kontrakan dan lahan penyerahan kini membuat mereka berpikir panjang akan kelangsungan hidup mereka yang lebih baik di masa mendatang. Kebutuhan ekonomi yang meningkat dalam rumah tangga, tambahan jumlah anggota keluarga dari tahun ketahun dalam rumah yang tinggal yang ukurannya hanya cuman untuk satu keluarga serta tidak di tunjang dengan ketersediaan lahan untuk di garap yang cukup membuat keputusan pulang kembali ke tanah kelahiran di Timor leste menjadi salah satu solusi yang terbaik. Salah satu adalah 5 kepala keluarga 12 orang dari kamp Naibonat yang memutuskan untuk kembali ke tana...

Mbak Ida dan warung kopinya

Gambar
“Awalnya bukan di sini, sering  pindah-pindah. Sekarang baru menetap di sini ” kata mbak  Ida yang punya warung dengan dialek Sundanya  sambil  mengaduk  segelas susu jahe sore itu. Mereka tiga bersaudara, kakaknya  yang sulung juga membuka usaha yang sama. Mbak Ida bersama adik bungsu laki-laki bergantian menjaga  warung ini. Warung kopi  sebutannya, berada 10 meter  di depan kantor  Yayasan Pantau Kebayoran lama. Bukan  minuman kopi saja yang di jual, ada me rebus, gorengan, bubur kacang hijau,  roti bakar, dan telur. Harganya murah meriah. Saya selalu sarapan pagi di warung ini selama mengikuti kursus “Jurnalisme Sastrawi” di Jakarta. Warung ini bukanya  24 jam,  yang datang minum atau makan di sini pun orang-orang di sekitar, juga para sopir angkot. “Udah berapa lama buka warung ini mbak” “ Dulu Bapak yang kelolah dari tahun 1989, tapi karena udah tua ya gantian anak-anak yang ngurusin” “Kalo Mbak...

Murah di Jakarta, Mahal di Atambua...

Gambar
“Aahhh.... ko murah ya ?” guman saya dalam hati seraya mengambil uang lima puluh rIbu rupiah untuk membayar sarapan pagi  dua piring masing-masing  nasi  telur tambah tempe dan nasi ikan di warung kecil  yang letaknya di depan kantor Pantau. Pagi itu selasa (5/7) rencana ke kantor Pantau untuk mengerjakan tugas pertama  yang di berikan oleh Janet Steele. Tik...tik..tik  terdengar Bunyi  arloji  tangan saya  sudah menunjukan jam 9:30,  janjian sama teman lain untuk bertemu di kantor Pantau jam 10:00. Dengan memakai celana jeans hitam, kaos biru dan selempang adat  Timor (tais) yang melingkar di leher,  cepat-cepat saya ayunkan langkah kaki untuk menuju ke kantor Pantau.  Kurang dari sepuluh menit  perjalanan dari kos menuju kantor Pantau yang letaknya di pinggir jalan kebayoran lama nomor 18 CD lantai empat. “Hai selamat pagi semuanya” sapa saya kepada teman lain yang  sudah hadir sebelumnya. Merek...

Dua Anak Kecil Yang Menggemaskan...

Gambar
Jam sembilan  pagi  di depan halaman rumah  kos yang tak jauh dari kantor Pantau kira-kira 500 meter  jaraknya,  dengan jalan masuk yang lebarnya cuma  2 meter dan saluran air kecil di samping kiri  kanan jalan , masih  terasa  segar udaranya pagi ini. Di halaman rumah terdapat tanaman rumput hijau yang terpotong  rapi  nampak masih basah karena embun pagi . Beberapa motor anak kos berbagai merk  sedang parkir di atas teras dan juga satu buah sedan merah  yang  masih berada di dalam garasi.  Sepatu dan sendal  laki-laki maupun perempuan masih  berserakan di teras depan maupun di belakang  rumah , kicauan burung  di dalam sangkar yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang membuat suasana pagi itu seperti di firdaus . Halaman rumah kos ini   luasnya  tidak lebih dari lapangan badminton  itu berpagar pintu besi berwarna biru setinggi satu meter lebih. Suara orang –o...

Kembali Ke Tanah Kelahiran

Gambar
Deskulpa, hau bele kolia ho ita bo’ot konaba asuntu ida ne”? , seorang  orang UNPOL  ( Polisi PBB)  dari Brazil  dengan badan tegak  atletis datang menghampiri saya tepat di depan  pos TNI yang ada di perbatasan Motamasin RI-RDTL. Siang itu (30/1/2011) cuaca di perbatasan Motamasin begitu panas, debu yang berterbangan karena  arus lalulintas kendaraan  pengangkut para eks pengungsi  Timor-Timur yang memutuskan  kembali ke tanah kelahiran mereka dari kamp menuju pintu perbatasan. Karena banyaknya debu, membuat saya memakai penutup hidung untuk menghindari kotoran debu dari tiupan angin.  ” Horeee.. pulang ke Timor..pulang ke Timor” beberapa orang berteriak kegirangan di atas truk yang sedang melintas ke perbatasan. Mereka yang pulang  berasal dari kamp pengungsi di wilayah selatan Belu sebanyak 67 jiwa . Tujuan mereka ke Distric Kovalima Timor Leste. Sebagian dari mereka yang pulang  adalah  para lansia da...

Mama Luciana Akhirnya Jadi pulang juga Betano Same

Gambar
 Ini satu kisah yang menarik  selama memfasilitasi  repatriasi keluarga  kembali  ke Timor leste, mama Luciana Pereira, janda  (53 thn) merupakan salah satu keluarga yang pulang bersama keluarga lain dari sukabitetek Indonesia ke Betano same Timor leste. Dia Seorang diri yang menjadi satu keluarga Hari itu 14 Januari 2011 ada 2 keluarga 5 jiwa dari sukabitetek yang akan pulang ke Betano same, kepulangan mereka di fasilitasi oleh CIS (saya terlibat di dalamnnya ) dan FPPA Atambua. Semua dokumen sudah di persiapkan , mulai dari surat pernyataan, surat pencabutan status wni dari DISPENDUK, daftar barang dan surat serah  terima dari KODIM Belu. Satu kendaraan kijang pick up yang di sewa untuk mengantar mereka sampai ke Timor Leste pun sudah di siapkan , barang bawaan mereka tidak banyak jadi  cukup untuk satu kendaraan kijang. Seperti biasa tradisi  orang timor sebelum berangkat menuju perbatasan Motaain masih ada pamitan kepada k...

Surat Mama Fernanda Buat Anita

Gambar
Mama Fernanda Da Silva (38 thn) adalah salah satu keluarga dari 25 kepala keluarga 76 jiwa yang pulang ke Suai Timor Leste pada tanggal 31 Januari 2011 dari kamp Namfalus Kobalima –Timor Barat Indonesia. Ia pulang bersama kedua anaknya Anita Da Silva  dan Leonardus Da Silva , anak pertamanya bernama Bete sudah kembali ke Timor Leste pada tahun 2009 lalu dan anaknya yang benama Ajuli memilih untuk belum kembali karena masih mau menyelesaikan SMA nya dulu, singkatnya Mama Fernanda mempunyai 4 orang anak dua laki-laki dan dua perempuan. Suaminya saat tahun 1999 tidak ikut mengungsi ke Timor Barat, suaminya tetap  di wilayah Timor Leste waktu itu dan menurut informasi mama Fernanda  suaminya sudah meninggal. Saat berada di tempat pengungsian selama 11 tahun mama Fernanda tinggal bersama anaknya dan dia sendiri yang membiayai anaknya  Anita (SMP) dan Ajuli (SMA) bersekolah. Selain itu mama nya Fernanda juga tingal di tempat pengungsian hanya jarak mereka...